Catatan Injil
A
Minggu Biasa

Firman Tuhan Menjadi Kegirangan Bagiku

Oleh Tim Catatan Injil

15Engkau mengetahuinya; ya TUHAN, ingatlah aku dan perhatikanlah aku, lakukanlah pembalasan untukku terhadap orang-orang yang mengejar aku. Janganlah membiarkan aku diambil, karena panjang sabar-Mu, ketahuilah bagaimana aku menanggung celaan oleh karena Engkau! 16Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam. 17Tidak pernah aku duduk beria-ria dalam pertemuan orang-orang yang bersenda gurau; karena tekanan tangan-Mu aku duduk sendirian, sebab Engkau telah memenuhi aku dengan geram. 18Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai. 19Karena itu beginilah jawab TUHAN: "Jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau menjadi pelayan di hadapan-Ku, dan jika engkau mengucapkan apa yang berharga dan tidak hina, maka engkau akan menjadi penyambung lidah bagi-Ku. Biarpun mereka akan kembali kepadamu, namun engkau tidak perlu kembali kepada mereka. 20Terhadap bangsa ini Aku akan membuat engkau sebagai tembok berkubu dari tembaga; mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN."

Yeremia 15:15-20

Nabi yang Menangis di Tengah Bangsa yang Menolak

Yeremia dipanggil Tuhan ketika ia masih muda, pada masa raja Yosia memerintah Yehuda (Yeremia 1:6-8). Tugasnya berat. Ia harus menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa yang tidak mau mendengar, yang hatinya sudah keras karena dosa raja Manasye dan penyembahan berhala yang merajalela (Yeremia 15:4).

Menjelang pasal 15, Tuhan bahkan berkata, sekalipun Musa dan Samuel berdiri di hadapan-Nya, hati-Nya tidak akan berbalik kepada bangsa itu lagi (Yeremia 15:1). Hukuman sudah di depan mata, pedang, kelaparan, dan pembuangan menanti. Di tengah pesan yang keras itu, Yeremia sendiri hancur. Ia mengeluh, celaka aku karena aku menjadi buah perbantahan bagi seluruh negeri, semua orang mengutuki aku padahal aku tidak berutang kepada siapa pun (Yeremia 15:10).

Doa di ayat 15 sampai 18 adalah curahan hati seorang hamba yang setia tetapi kesepian. Ia menanggung cela oleh karena Tuhan, duduk sendirian karena tekanan tangan Tuhan atasnya, dan lukanya terasa tidak berkesudahan. Dari titik yang paling rendah itulah, Yeremia mengucapkan salah satu kalimat paling indah dalam kitabnya, firman-Mu menjadi kegirangan bagiku.

Ketika Firman Dimakan dan Luka Tetap Terasa

Yeremia membuka doanya dengan jujur, ia minta Tuhan mengingat dan memperhatikannya, dan ia mengingatkan bahwa cela yang ia tanggung adalah oleh karena Tuhan (Yeremia 15:15). Ini bukan tuntutan sombong. Ini jeritan orang yang tahu hanya Tuhan yang mengerti penderitaannya.

Lalu di ayat 16, nada berubah menjadi kesaksian yang penuh sukacita:

Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya, firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.
(Yeremia 15:16)

Kata yang diterjemahkan "aku menikmatinya" dalam bahasa Ibrani adalah 'akal (אָכַל), yang arti harfiahnya "makan" atau "melahap". Yeremia tidak sekadar membaca firman. Ia memakannya, seperti orang lapar yang menemukan roti. Gambaran yang sama dipakai pemazmur, hukum Tuhan lebih indah daripada emas dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah (Mazmur 19:11). Yehezkiel juga disuruh memakan gulungan kitab, dan rasanya manis di mulutnya (Yehezkiel 3:1-3).

Yeremia memakai dua kata untuk sukacita, sason (שָׂשׂוֹן) untuk kegirangan dan simchah (שִׂמְחָה) untuk kesukaan hati. Keduanya bukan senyum tipis karena keadaan membaik. Sason adalah sorak kegirangan, seperti pesta, dan simchah adalah sukacita yang menetap di hati. Sumbernya bukan keadaan yang berubah, melainkan karena nama Tuhan telah diserukan atasnya. Ia milik Tuhan, dan firman Tuan-Nya menjadi makanan jiwanya.

Kitab Suci adalah surat dari rumah, suara Bapa yang mengingatkan siapa milik kita di perantauan.

Augustine

Tetapi kegirangan itu tidak menghapus luka. Ayat 17 dan 18 kembali jujur, ia duduk sendirian karena tekanan tangan Tuhan, ia dipenuhi dengan geram melihat dosa bangsanya, dan lukanya sukar disembuhkan (Yeremia 15:17-18). Bahkan ia berani berkata, Engkau seperti sungai yang curang bagiku. Kata Ibraninya adalah 'akhzav (אַכְזָב), artinya sungai musiman yang terlihat berair di musim hujan tetapi kering di musim kemarau, mengecewakan orang yang berharap. Yeremia sedang bergumul, apakah Tuhan masih dapat dipercaya ketika doa belum dijawab dan penderitaan tidak berhenti.

Jawaban Tuhan di ayat 19 dan 20 penuh anugerah sekaligus panggilan. Tuhan tidak memarahi kejujuran Yeremia. Ia memanggilnya untuk kembali, supaya ia dapat berdiri lagi sebagai pelayan di hadapan-Nya. Syaratnya, ia harus mengucapkan apa yang berharga dan bukan yang hina, menjadi penyambung lidah bagi Tuhan, bukan mengulang keluhan pahit bangsa itu. Dan janjinya sangat kuat:

Terhadap bangsa ini Aku akan membuat engkau sebagai tembok berkubu dari tembaga, mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau.
(Yeremia 15:20)

Tuhan tidak berjanji bahwa serangan akan berhenti. Ia berjanji bahwa Yeremia tidak akan runtuh.

Kristus, Firman yang Dimakan dan Tembok yang Tidak Runtuh

Yeremia memakan firman dan menemukan kegirangan, tetapi ia masih menanti Firman itu sendiri datang sebagai manusia. Yohanes menulis:

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya.
(Yohanes 1:14)

Yesus adalah penggenapan dari apa yang hanya dicicipi Yeremia. Jika Yeremia menanggung cela oleh karena Tuhan, Yesus menanggung cela yang jauh lebih besar oleh karena kita. Ia ditolak oleh bangsa-Nya sendiri, duduk sendirian di taman Getsemani, dan di kayu salib berseru mengapa Ia ditinggalkan. Penulis Ibrani berkata Ia adalah hamba yang sama seperti Yeremia, tetapi tanpa cacat:

Ingatlah Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
(Ibrani 12:3)

Yang menggerakkan Yesus untuk bertahan bukanlah rasa bangga karena kuat. Ia menemukan makanan yang sama seperti Yeremia, tetapi lebih penuh. Ketika lapar di padang gurun, Ia berkata manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Ketika murid-murid menyuruh-Nya makan, Ia menjawab, makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku (Yohanes 4:34). Di salib, sukacita yang disediakan di hadapan-Nya membuat Ia tekun memikul penderitaan (Ibrani 12:2). Kegirangan Yeremia menjadi nyata sempurna di dalam Kristus.

Tuhan berjanji kepada Yeremia, engkau akan menjadi tembok tembaga yang tidak dikalahkan. Janji itu digenapi penuh di dalam Kristus yang diserang oleh maut dan tidak dikalahkan. Kubur tidak dapat menahan-Nya. Kini, janji penyertaan itu diberikan kepada kita yang ada di dalam Dia, Aku menyertai engkau untuk menyelamatkan dan melepaskan engkau. Bukan karena kita sekuat tembaga, tetapi karena Kristus adalah tembok kita yang hidup.

Orang Kristen memakan Kitab Suci, sebagaimana makanan memelihara tubuh, Firman memelihara umat Allah.

Eugene Peterson, Eat This Book

Firman yang Menjadi Kegirangan di Tengah Luka

Mungkin kamu membaca Yeremia 15 dan merasa dekat dengan ayat 18, penderitaanku tidak berkesudahan, lukaku sukar disembuhkan. Doa yang lama belum dijawab, pelayanan yang terasa sepi, atau firman yang disampaikan tetapi tidak didengar, semua itu bisa membuat hati bertanya apakah Tuhan seperti sungai yang kering.

Yeremia mengajar kita dua hal sekaligus. Pertama, bawalah keluhanmu dengan jujur kepada Tuhan. Ia tidak menolak doa yang jujur, bahkan yang terdengar tajam. Tuhan menjawab Yeremia bukan dengan hukuman, tetapi dengan panggilan untuk kembali. Ia ingin kita mengucapkan apa yang berharga, bukan yang hina, artinya menyaring kata-kata kita melalui firman-Nya, bukan melalui pahitnya keadaan.

Kedua, makanlah firman setiap hari sampai ia menjadi kegirangan, bukan sekadar kewajiban. Pemazmur menggambarkan orang yang berbahagia sebagai orang yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN dan yang merenungkannya siang dan malam (Mazmur 1:2).

Kegirangan Yeremia datang karena ia bertemu dengan perkataan-perkataan Tuhan, lalu menikmatinya. Bukan membaca cepat supaya checklist selesai, melainkan mengunyah perlahan, mengingat, dan membiarkan firman itu membentuk hati. Jika hari ini hatimu kering, cobalah kembali kepada satu ayat, bacalah pelan, doakan, dan tanyakan apa yang Tuhan katakan tentang diri-Nya di sana.

Terakhir, dengarkan panggilan untuk tidak kembali kepada mereka. Tuhan berkata kepada Yeremia, biarpun mereka kembali kepadamu, engkau tidak perlu kembali kepada mereka (Yeremia 15:19). Dalam hidup sehari-hari, ini berarti tidak menyesuaikan isi firman supaya diterima lingkungan. Di kantor, ketika rekan mengajak memanipulasi laporan atau bergosip untuk menjaga kedekatan, kita memilih berkata jujur dengan lembut walau tidak populer. Di keluarga, ketika kebiasaan menunda ibadah atau menganggap firman sebagai formalitas mulai terasa normal, kita tetap menjaga waktu teduh dan mengucapkan apa yang berharga, bukan ikut arus. Di media sosial, ketika tekanan untuk ikut menghakimi atau menyebar hal yang belum pasti itu kuat, kita memilih diam atau berkata yang membangun. Godaan untuk kembali kepada mereka sering terasa seperti jalan aman supaya tidak ditolak, tetapi Tuhan memanggil kita tetap menjadi penyambung lidah-Nya yang setia. Serangan mungkin tetap datang, tetapi tembok tembaga tidak ditentukan oleh kerasnya serangan, melainkan oleh siapa yang menyertai. Dan Ia berjanji, Aku menyertai engkau.

Kita harus membiarkan Firman Allah mengusik rasa aman kita dan meruntuhkan pola pikir kita.

John Stott

📖 Cerita Fiktif Pendukung

Dialog fiktif antara Sinta yang merasa lelah melayani dan Pak Ardi yang menolongnya melihat kembali kegirangan dalam firman.

Sinta: Pak, aku baca Yeremia 15:16, firman-Mu menjadi kegirangan bagiku. Tapi jujur, aku lebih sering merasa seperti ayat 18, lukaku sukar disembuhkan. Sudah lama berdoa, tapi keadaan tidak berubah. Firman terasa kering.

Pak Ardi: Wajar kamu merasa begitu, Sinta. Yeremia sendiri merasakan keduanya dalam beberapa ayat yang sama. Ia baru saja bersorak tentang firman yang jadi kegirangan, lalu langsung bertanya mengapa penderitaannya tidak berkesudahan. Alkitab tidak menyuruh kita pura-pura kuat.

Sinta: Jadi, tidak apa-apa aku mengeluh seperti Yeremia, bahkan bilang Tuhan seperti sungai yang curang?

Pak Ardi: Tuhan tidak memarahi kejujuran Yeremia. Ia menjawab dengan lembut, jika engkau mau kembali, Aku akan mengembalikan engkau. Tuhan tidak minta Yeremia membereskan perasaan dulu baru datang. Ia mengundang Yeremia kembali untuk berdiri di hadapan-Nya. Keluhan jujur adalah jalan kembali, bukan alasan untuk pergi.

Sinta: Tapi bagaimana firman bisa jadi kegirangan lagi kalau hati sudah capek?

Pak Ardi: Yeremia memakai kata "makan" untuk firman. Ia tidak sekadar melihat atau menyimpan firman di rak. Ia memakannya. Mungkin selama ini kita membaca untuk menyelesaikan bacaan, bukan untuk menikmati Pribadi di balik bacaan itu. Coba satu ayat saja besok pagi, misalnya Yeremia 15:20, bacalah pelan, doakan, dan tanyakan, apa yang ayat ini katakan tentang Tuhan yang menyertai.

Sinta: Dan kalau setelah itu masalahnya tetap ada? Tetap disalahpahami orang, tetap kesepian seperti Yeremia?

Pak Ardi: Tuhan tidak janji serangan berhenti, Sinta. Ia janji tembok tembaga tidak akan runtuh karena Ia menyertai. Kegirangan kita bukan karena semua luka langsung sembuh, tetapi karena nama-Nya sudah diserukan atas kita. Kita milik Tuhan. Dan Kristus, Firman yang menjadi manusia, sudah lebih dulu memakan kehendak Bapa sampai ke kayu salib, supaya sukacita itu tinggal di dalam kita juga. Hari ini, makanlah lagi. Kegirangan itu akan kembali, pelan-pelan, bersama Dia yang menyertai.

Bagikan:

Artikel Terkait