Seluruh Hidup Adalah Pertobatan
Kemarin, 31 Oktober, gereja-gereja Protestan memperingati Hari Reformasi. Dalil pertama dari 95 dalil Martin Luther berbunyi kira-kira begini: ketika Tuhan kita Yesus Kristus berkata "Bertobatlah", Ia menghendaki supaya seluruh hidup orang percaya adalah pertobatan. Bukan awal hidupnya saja, tetapi seluruhnya. Artinya, orang yang sudah percaya pun akan terus bertobat sampai akhir, karena ia akan terus jatuh.
Coba jujur sebentar. Waktu mendengar kalimat "hiduplah sesuai dengan kehendak Allah", apa yang muncul di hati? Biasanya sebuah daftar: lebih rajin doa, lebih sabar, lebih murah hati. Lalu diam-diam muncul pertanyaan yang menakutkan: kalau aku gagal memenuhi daftar itu, apakah aku masih diterima Allah? Paulus, dalam nats minggu ini, menjawabnya dengan urutan yang berbeda dari yang biasa kita bayangkan.
Eksegesis: Seorang Ibu, Seorang Pekerja, Seorang Bapa
Jemaat yang Ditinggal Mendadak
Jemaat Tesalonika lahir dalam waktu singkat. Paulus berbicara di rumah ibadat selama tiga hari Sabat, lalu terjadi keributan, rumah Yason diserbu, dan malam itu juga Paulus dan Silas diungsikan ke Berea (Kis. 17:1-10). Jemaat yang masih "bayi" ini ditinggal, sementara lawan-lawannya berbisik bahwa Paulus cuma pengkhotbah keliling yang cari uang dan cari nama.
Karena itu 1 Tesalonika 2 terdengar seperti pembelaan. Paulus tidak bermulut manis, tidak punya maksud loba, tidak mencari pujian (1 Tes. 2:3-6). Untuk menggambarkan pelayanannya, ia memakai dua gambaran keluarga: seorang ibu (ayat 7-8) dan seorang bapa (ayat 11-12).
Membagi Injil, Membagi Hidup (ayat 8-9)
Seperti ibu yang merawat anaknya, Paulus rela membagi dua hal: Injil Allah dan hidup kami sendiri. Kata "hidup" di sini adalah psychas (ψυχάς), yang juga berarti "nyawa" atau "diri". Paulus tidak hanya menyerahkan sebuah pesan lalu pergi. Ia menyerahkan dirinya.
Ayat 9 menunjukkan bentuk konkretnya. Paulus menumpuk dua kata untuk kerja fisik yang melelahkan, kopos dan mochthos (usaha dan jerih lelah). Ia seorang tukang kemah (Kis. 18:3), bekerja siang malam supaya tidak menjadi beban, dan sementara itu memberitakan Injil. Pelayanannya tidak terpisah dari pekerjaannya. Keduanya berjalan bersamaan.
Tak Bercacat? (ayat 10)
Lalu Paulus berkata hidupnya "saleh, adil dan tak bercacat". Bukankah Paulus juga yang menyebut dirinya orang yang paling berdosa? Kata amemptōs (tak bercacat) di sini berarti tidak ada tuduhan sah yang bisa diajukan. Lawan-lawannya menuduh ia penipu dan tamak, dan Paulus menjawab: kalian dan Allah melihat sendiri hidup kami, tidak ada agenda tersembunyi. Ini bahasa integritas, bukan kesempurnaan.
Panggilan Datang Lebih Dulu (ayat 11-12)
Gambarannya berganti ke bapa yang menasihati, menguatkan, dan meminta dengan sangat, "seorang demi seorang". Isi nasihatnya: "supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah." Bahasa Yunaninya peripatein axiōs tou theou, harfiahnya "berjalan dengan layak bagi Allah". Hidup Kristen adalah perjalanan, langkah demi langkah.
TB menerjemahkannya "kehendak Allah", dan itu tepat, sebab dua pasal kemudian Paulus menjelaskan apa isi kehendak itu:
Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan,
(1 Tesalonika 4:3)
Kehendak Allah adalah pengudusan, proses dijadikan kudus. Dan prosesnya belum selesai: mereka sudah hidup berkenan kepada Allah, "tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi" (1 Tes. 4:1).
Sekarang perhatikan ujung ayat 12: "yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya." Paulus tidak berkata, "Hiduplah layak, supaya Allah memanggil kamu." Ia berkata, Allah sudah memanggil kamu, karena itu berjalanlah. Mereka dipilih (1 Tes. 1:4) ketika masih menyembah berhala, dan karena panggilan itulah mereka berbalik kepada Allah (1 Tes. 1:9).
Hidup menurut kehendak Allah adalah jalan pulang orang yang sudah diterima, bukan ujian masuk.
Pesan Injil: Dibenarkan Sekali, Dikuduskan Seumur Hidup
Dua Hal yang Sering Tertukar
Reformasi membedakan dua karya Allah. Yang pertama adalah pembenaran: keputusan Allah, sekali untuk selamanya, yang menyatakan orang berdosa benar karena Kristus. "Kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah" (Rm. 5:1), dan "sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus" (Rm. 8:1). Pembenaran itu sudah lengkap.
Yang kedua adalah pengudusan: karya Allah seumur hidup yang mengubah orang yang sudah dibenarkan supaya makin serupa Kristus. Allah "yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya" (Flp. 1:6).
Masalahnya, kita sering membalik urutannya: "Kalau aku sudah cukup baik, barulah Allah menerimaku." Padahal kita diselamatkan karena kasih karunia, "bukan hasil usahamu" (Ef. 2:8). Pekerjaan baik adalah buah keselamatan, bukan akarnya.
Kita tidak diterima karena berhasil berjalan dengan benar. Kita berjalan karena sudah diterima di dalam Kristus.
Dan Kita Pasti Tetap Jatuh
Orang yang sudah dibenarkan tidak otomatis berhenti berdosa. Paulus sendiri mengaku:
Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.
(Roma 7:19)
Petrus, yang sudah dipenuhi Roh pada hari Pentakosta, di kemudian hari menjauhi orang percaya non-Yahudi karena takut, dan "Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka" (Gal. 2:11-13). Kalau para rasul saja masih jatuh, kita tidak perlu kaget ketika kita jatuh. Luther menyebut keadaan ini simul iustus et peccator, sekaligus benar dan berdosa. Ini bukan izin untuk bermain-main dengan dosa, tetapi alasan untuk tidak putus asa. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil" untuk mengampuni (1 Yoh. 1:9).
Setiap kali jatuh, yang goyah adalah langkah kita, bukan status kita. Anak yang tersandung tetap anak, dan Bapa tetap mengulurkan tangan.
Yang Menggenapi Adalah Dia yang Memanggil
Paulus membagi psychas-nya. Kristus menyerahkan psychē-Nya, nyawa-Nya, "menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mrk. 10:45). Paulus tak bercacat dalam arti integritas. Kristus tak bercacat dalam arti sepenuhnya: "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2 Kor. 5:21).
Lalu Paulus memakai kata "tak bercacat" sekali lagi di akhir suratnya. Kali ini bukan sebagai prestasinya, melainkan janji tentang karya Allah:
Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.
(1 Tesalonika 5:23-24)
"Ia yang memanggil", frasa yang sama dengan 2:12. Allah yang memulai panggilan itu adalah Allah yang akan menyelesaikannya. Kita pasti gagal berjalan dengan sempurna. Kristus sudah berhasil, dan Ia tidak akan melepaskan kita di tengah jalan.
Pengharapanku bukan pada seberapa kuat aku memegang Allah, tetapi pada betapa setianya Allah memegang aku, bahkan di hari-hari aku melepaskan tangan-Nya.
Penginjilan: Di Sela-Sela Pekerjaan
Ayat 9 menyimpan detail yang mudah terlewat: Paulus memberitakan Injil sambil bekerja siang malam. Rasul terbesar dalam sejarah gereja bukan seorang yang dibebaskan dari urusan nafkah. Ia menjahit kemah, melayani pelanggan, menagih bayaran, dan di sela-sela semua itu menceritakan Kristus.
Pola itu masih hidup sampai sekarang. Ada mahasiswa yang dikejar tugas dan praktikum, tetapi tetap membuka Alkitab bersama dua atau tiga teman di kelompok kecil. Ada dosen yang memeriksa ratusan lembar ujian dan mengurus akreditasi, tetapi tetap meluangkan waktu untuk mahasiswa yang datang dengan pergumulan hidup, bukan hanya pertanyaan kuliah. Ada guru les yang berpindah dari satu rumah ke rumah lain sampai malam, dan sesekali mendapat kesempatan berdoa bersama muridnya sebelum ujian. Ada staf penuh waktu di lembaga pelayanan mahasiswa, yang di luar terlihat "bekerja untuk Tuhan", padahal juga bergumul dengan administrasi, laporan, penggalangan dukungan, dan rasa lelah. Ada perawat yang menyelesaikan sif malam, lalu menemani pasien yang takut menghadapi operasi besok pagi. Dan ada banyak profesi lain yang sama-sama melelahkan.
Mereka semua tahu rasanya kopos dan mochthos. Dan mereka juga tahu bahwa mereka sering gagal: terlalu lelah untuk menyapa, terlalu sibuk untuk mendengar, kesal kepada orang yang justru sedang mereka doakan. Di sinilah urutan Paulus menolong. Panggilan untuk memberitakan Injil tidak menunggu kita punya waktu luang, energi penuh, atau hidup yang sudah rapi. Panggilan itu datang kepada orang yang sudah dipanggil Allah, di tengah pekerjaan yang sudah Allah tempatkan.
Kita juga tidak sedang mengiklankan diri. "Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan" (2 Kor. 4:5). Harta itu ada dalam bejana tanah liat (2 Kor. 4:7), yang retak dan rapuh, supaya nyata bahwa kekuatannya dari Allah. Bahkan cara kita gagal bisa menjadi kesaksian. Rekan kerja yang melihat kita mengaku salah tanpa membela diri sedang melihat sesuatu yang jarang di dunia kerja: orang yang tidak perlu menjaga citra, karena penerimaannya tidak bergantung pada citra itu.
Paulus tidak menunggu punya waktu luang untuk memberitakan Injil. Ia memberitakannya di sela-sela jerih lelahnya.
Aplikasi: Berjalan Sebagai Anak yang Sudah Dipanggil
1. Ingat Urutannya Setiap Kali Jatuh
Saat jatuh lagi di dosa yang sama, godaannya adalah berjanji lebih keras dulu, baru berani berdoa. Itu membalik urutan Paulus. Seorang anak yang belajar berjalan jatuh puluhan kali sehari, dan orang tuanya tidak pernah berkata, "Kalau jatuh sekali lagi, kamu bukan anakku." Kembalilah dulu kepada panggilan dan pengampunan, lalu melangkah lagi.
2. Lihat Tempat Kerjamu sebagai Ladang
Paulus bekerja "seorang demi seorang". Pilih satu orang di lingkungan kerjamu, kampusmu, atau tempat pelayananmu. Mulailah dengan hadir: mendengarkan, menolong, makan bersama. Berdoalah supaya ada kesempatan untuk menceritakan apa yang Kristus sudah lakukan bagimu.
3. Jangan Tunggu Sempurna untuk Bersaksi
Ceritakan Kristus bukan sebagai orang yang sudah sampai, tetapi sebagai orang yang sedang berjalan pulang dan tahu jalannya. Kalau kamu menyakiti orang yang sedang kamu doakan, minta maaflah dengan jujur. Bisa jadi itu pintu yang Tuhan buka.
Kita tidak bersaksi tentang betapa baiknya kita. Kita bersaksi tentang betapa sabarnya Kristus kepada orang yang belum juga baik.
Renungkan minggu ini:
- Apakah aku memperlakukan "hidup sesuai kehendak Allah" sebagai syarat untuk diterima, atau sebagai jalan orang yang sudah diterima?
- Di tengah pekerjaanku sekarang, siapa satu orang yang bisa kubagikan Injil dan hidupku?
📖 Cerita Fiktif Pendukung
Percakapan fiktif antara Sarah, seorang perawat yang baru selesai sif malam, dan Bu Ruth, pembina kelompok kecilnya.
Sarah: Bu, semalam ada pasien yang tanya, "Suster percaya Tuhan, ya? Saya takut operasi besok." Tapi aku malah jawab singkat, "Banyak berdoa saja, Bu," terus buru-buru pergi. Aku capek banget, dan pasien di kamar sebelah terus memanggil.
Bu Ruth: Lalu sekarang kamu merasa gagal?
Sarah: Iya. Rasanya aku nggak cocok jadi saksi. Mungkin penginjilan itu tugasnya orang yang full-time melayani saja.
Bu Ruth: Coba baca 1 Tesalonika 2:9. Paulus bekerja siang malam sebagai tukang kemah, dan sementara itu memberitakan Injil. Rasul saja melayani di sela-sela jerih lelahnya. Kamu nggak salah tempat, Sarah. Bangsal itu ladangmu.
Sarah: Tapi aku nggak seperti Paulus yang hidupnya "tak bercacat".
Bu Ruth: Paulus juga menyebut dirinya orang yang paling berdosa. "Tak bercacat" itu soal tidak ada agenda tersembunyi. Dan di pasal 5 ia bilang yang akan membuat kita tak bercacat sampai akhir adalah Allah sendiri: "Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya."
Sarah: Jadi aku harus gimana?
Bu Ruth: Pertama, jangan tunggu merasa layak untuk berdoa. Mengaku saja, Dia setia mengampuni. Kedua, ibu itu operasi pagi ini, kan? Kalau masih sempat, mampir sebentar. Bilang, "Maaf semalam saya buru-buru. Boleh saya doakan sekarang?"
Sarah: Lima menit sebelum pulang masih bisa, Bu.
Bu Ruth: Itu cukup. Kamu bukan sedang menunjukkan perawat yang sempurna. Kamu sedang menunjukkan Tuhan yang setia kepada perawat yang capek.