Langsung ke konten
Catatan Injil
Minggu ke-21 Set. Trinitatis15 menit baca

Mencari Perlindungan Pada Nama Tuhan

Oleh Tim Catatan Injil

Zefanya 3:9-15
9Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN, beribadah kepada-Nya dengan bahu-membahu. 10Dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia orang-orang yang memuja Aku, yang terserak-serak, akan membawa persembahan kepada-Ku. 11Pada hari itu engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku, sebab pada waktu itu Aku akan menyingkirkan dari padamu orang-orangmu yang ria congkak, dan engkau tidak akan lagi meninggikan dirimu di gunung-Ku yang kudus. 12Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN, 13yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya. 14Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati, hai puteri Yerusalem! 15TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu. Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu; engkau tidak akan takut kepada malapetaka lagi.
Daftar isi

Surat dari Zaman yang Gelap

Zefanya tumbuh besar di masa yang gelap. Silsilahnya di Zef. 1:1 ditarik sampai empat generasi ke belakang, berujung pada nama Hizkia, dan banyak penafsir menduga itu adalah raja Hizkia yang saleh. Tapi masa kecilnya bukan masa kejayaan. Ia dibesarkan di bawah Manasye, raja yang memerintah 55 tahun dan memenuhi Yerusalem dengan mezbah berhala (2 Raj. 21:1-9). Ketika firman TUHAN akhirnya datang kepadanya pada zaman Yosia, umat itu sudah terlalu lama hidup dengan dua ibadah sekaligus: sujud kepada TUHAN, sambil sujud juga kepada Baal dan tentara langit (Zef. 1:4-5).

Karena itu nubuatnya keras banget. TUHAN berfirman bahwa Ia akan menyapu bersih segala-galanya dari atas muka bumi (Zef. 1:2), dan yang paling menyakitkan, yang disorot bukan hanya bangsa-bangsa luar. Pasal 3 dibuka dengan seruan celaka atas Yerusalem sendiri: si pemberontak dan si cemar, kota yang tidak mau mendengarkan teguran dan "kepada TUHAN ia tidak percaya" (Zef. 3:1-2). Para pemukanya seperti singa yang mengaum, para hakimnya seperti serigala, para nabinya pengkhianat, dan para imamnya menajiskan apa yang kudus (Zef. 3:3-4). Lalu di ayat 8, TUHAN mengumpulkan bangsa-bangsa untuk menumpahkan geram-Nya, sebab seluruh bumi akan dimakan habis oleh api cemburu-Nya.

Coba berhenti sebentar di titik ini. Kalau semua orang bersalah, dan murka itu meliputi seluruh bumi, ke mana kita bisa lari? Itulah pertanyaan yang menggantung di akhir ayat 8. Lalu muncul dua kata yang membalik segalanya:

Tetapi sesudah itu Aku akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, yakni bibir yang bersih, supaya sekaliannya mereka memanggil nama TUHAN.
(Zefanya 3:9)

Kalau kamu pernah membaca Kejadian 11, janji ini terdengar akrab. Dulu, seluruh bumi satu bahasanya. Mereka menetap di tanah Sinear dan berkata:

Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.
(Kejadian 11:4)

Ironinya tajam. Mereka mencari nama supaya tidak terserak, dan justru TUHAN yang turun, mengacaubalaukan bahasa mereka, lalu menyerakkan mereka ke seluruh bumi (Kej. 11:7-8). Nama yang mereka bangun dengan tangan sendiri akhirnya cuma dikenal sebagai Babel, tempat kekacauan (Kej. 11:9). Di Babel, manusia mencari nama bagi dirinya sendiri. Di Zefanya, sisa umat justru datang berlindung pada Nama TUHAN. Dua nama, dua arah, dan itulah yang akan kita telusuri bersama.

Eksegesis: Dua Nama, Dua Arah

Perikop ini bergerak dalam tiga napas: bangsa-bangsa dikumpulkan dengan bibir yang bersih (ayat 9-10), sisa yang rendah hati diberi tempat berlindung (ayat 11-13), lalu seluruh umat disuruh bersorak (ayat 14-15). Kita jalan pelan-pelan satu per satu.

Bibir yang Dibersihkan, Bahu yang Disatukan (ayat 9-10)

Hubungan dengan Babel bukan cuma kesan kita. Kata Ibrani untuk "bahasa" di Kej. 11:1 secara harfiah adalah śāpâ (שָׂפָה), yaitu "bibir". Kata yang sama muncul di Zefanya 3:9: TUHAN memberi bangsa-bangsa śāpâ bĕrûrâ (שָׂפָה בְרוּרָה), "bibir yang bersih". Kata bĕrûrâ membawa gambaran sesuatu yang dimurnikan, seperti air keruh yang disaring sampai jernih. Jadi masalahnya bukan sekadar logat yang berbeda. Bibir kita kotor, dan Allah sendiri yang turun tangan membersihkannya. Nabi Yesaya pernah merasakannya persis: ia berseru bahwa ia seorang yang najis bibir, lalu bara dari mezbah menyentuh mulutnya dan dosanya dihapus (Yes. 6:5-7).

Tujuan pembersihan itu bukan membuat kita fasih. Tujuannya ada di ujung ayat: supaya mereka memanggil nama TUHAN dan beribadah kepada-Nya šĕkem ʾeḥād (שְׁכֶם אֶחָד), harfiahnya "satu bahu". TB menerjemahkannya "bahu-membahu", seperti dua orang yang memanggul satu balok berat yang sama. Di Babel manusia bersatu untuk menaikkan namanya sendiri. Di sini manusia bersatu karena bersama-sama memanggil Nama yang bukan milik mereka.

Ayat 10 menyebut orang-orang "dari seberang sungai-sungai negeri Etiopia", yang terserak-serak, akan datang membawa persembahan. Etiopia adalah Kush, ujung dunia yang dikenal pada zaman itu. Komentari TGC mencatat bahwa nama ayah Zefanya di Zef. 1:1, Kusyi, adalah nama yang sama, sehingga nubuat ini terasa dekat dengan keluarga sang nabi sendiri. Menurut komentari yang sama, orang-orang yang dulu diserakkan di Babel kini dipanggil pulang, dan William Wood dari Reformed Theological Seminary membacanya sebagai gambaran jemaat yang satu, Yahudi dan non-Yahudi, menyembah bersama.

Sombong Dibuang, Rendah Hati Disisakan (ayat 11-13)

Ayat 11 mengejutkan: "engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku." Perhatikan, dosanya tidak dibantah. Perbuatan durhaka itu nyata, tetapi malunya dicabut. Alasannya bukan karena mereka tiba-tiba bersih, melainkan karena TUHAN sendiri yang menyingkirkan orang-orang yang congkak dari tengah mereka, supaya tidak ada lagi yang meninggikan diri di gunung-Nya yang kudus.

Lalu siapa yang tinggal? Ayat 12 menjawab: "suatu umat yang rendah hati dan lemah", dalam Ibrani ʿānî wādāl (עָנִי וָדָל). ʿĀnî adalah orang yang tertindas dan bergantung, sedangkan dal menggambarkan yang lemah dan tidak berdaya. Komentari TGC menyebut kerendahan hati di sini sebagai hidup yang sepenuhnya bergantung kepada Allah. Dan lihatlah kata kerjanya: Allah yang "membiarkan hidup" mereka. Sisa ini ada bukan karena mereka cukup kuat bertahan, tetapi karena TUHAN menyisakan mereka. William Wood merangkum seluruh kitab Zefanya dalam satu kalimat: yang meninggikan diri akan direndahkan, dan yang merendahkan diri akan ditinggikan.

Mereka "mencari perlindungan pada nama TUHAN", dalam Ibrani ḥāsâ bĕšēm YHWH (חָסָה בְּשֵׁם יְהוָה). Ḥāsâ adalah kata kerja yang sama dengan anak burung yang bersembunyi di bawah sayap induknya (Mzm. 91:4). Ini bukan sekadar "aman", tapi menyembunyikan diri. Dan kalau kita kembali ke Babel, ada satu kata lagi yang terasa bergema. Di Kejadian 11:4 mereka berkata, "marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara", dan kata Ibrani untuk menara itu adalah migdāl (מִגְדָּל). Sekarang dengarkan Amsal:

Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.
(Amsal 18:10)

Menara melawan Nama. Di Babel, manusia membangun menara untuk membuat nama bagi dirinya. Di Amsal dan Zefanya, TUHAN sendiri adalah Menara, dan Nama-Nya adalah tempat berlari. Perlu jujur: hubungan migdāl ini adalah penelusuran antarteks, bukan klaim eksplisit Zefanya. Tapi benang merahnya terlalu kuat untuk diabaikan.

Di Babel manusia berlomba membuat nama. Di Zefanya, Allah mengumpulkan orang-orang yang sudah kehabisan nama untuk dibanggakan, lalu menyembunyikan mereka di dalam Nama-Nya.

Catatan Injil

Ayat 13 menjelaskan ciri sisa ini: tidak ada kelaliman, tidak ada kebohongan, tidak ada "lidah penipu" di mulut mereka, dan mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring tanpa ada yang mengganggu. Komentari TGC mengamati urutannya: mereka berhenti berbuat dosa karena mereka sudah beristirahat dan tidak ada lagi yang menakutkan mereka. Itu menarik. Kita sering berbohong karena takut, takut ketahuan, takut ditolak, takut kehilangan. Orang yang sudah berlindung pada Nama tidak punya alasan lagi untuk menipu.

Bersorak Sebelum Tiba (ayat 14-15)

Tiba-tiba nubuat berubah jadi nyanyian. Ada empat perintah beruntun: bersorak-sorailah, bertempik-soraklah, bersukacitalah, beria-rialah. Alasannya dinyatakan dalam bentuk yang sudah selesai: "TUHAN telah menyingkirkan hukuman yang jatuh atasmu, telah menebas binasa musuhmu." Padahal kalau kita kembali ke ayat 8, murka itu masih akan dicurahkan. Komentari TGC menyebut ini sebagai nabi yang berbicara seolah hukuman sudah lewat, sebab kepastian masa depan seharusnya melahirkan sukacita hari ini, di tengah rasa sakit.

Ada satu lagi ironi yang tajam. Ayat 8 berkata hukuman akan dituangkan atas seluruh bumi. Ayat 15 berkata hukuman itu sudah disingkirkan. Tidak ada kalimat di antaranya yang menjelaskan bagaimana hukuman yang begitu besar bisa hilang begitu saja. Hukuman tidak lenyap, ia dipindahkan. Siapa yang menanggungnya? Jawabannya ada di ujung ayat 15: "Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu."

Pesan Injil: Nama yang Turun dan Menjadi Tempat Berlindung

Kalau Nama TUHAN adalah menara tempat berlari, pertanyaannya: siapa Nama itu, dan bagaimana kita bisa masuk ke dalamnya? Perjanjian Baru menjawabnya dengan jelas.

Nama yang Diserukan di Pentakosta

Nabi Yoel menggemakan frasa Zefanya: "barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan" (Yl. 2:32). William Wood menduga Yoel memang meminjam dari Zefanya 3:9. Petrus lalu mengutip ayat Yoel itu di hari Pentakosta (Kis. 2:21), tepat ketika orang-orang dari Partia sampai Mesir, dari Kreta sampai Arab, mendengar perbuatan-perbuatan besar Allah dalam bahasa mereka sendiri (Kis. 2:5-11). Babel dibalik: bukan dengan menghapus semua bahasa, tetapi dengan satu Injil yang diberitakan lewat bibir yang dibersihkan Roh. Itu baru permulaan. Gereja yang bahu-membahu dari segala bangsa adalah awal dari pembalikan yang akan genap di Why. 7:9-10.

Dan siapa Nama yang diserukan itu? Paulus tidak ragu menyebutnya: yang dimaksud adalah Yesus, sehingga "barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan" (Rm. 10:13). Petrus menegaskannya:

Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.
(Kisah Para Rasul 4:12)

Bahkan nama "Yesus" itu sendiri sebuah pernyataan: Malaikat berkata Ia akan dinamai Yesus "karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Mat. 1:21). Nama yang di Babel dicari manusia dengan tangannya sendiri, di sini dianugerahkan oleh Bapa kepada Anak: "Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama" (Flp. 2:9). Dan akhirnya, "segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan" (Flp. 2:11). Bibir yang dulu kacau kini bersatu dalam satu pengakuan.

Lidah Tanpa Dusta: Sisa yang Sejati

Ayat 13 melukiskan sisa Israel yang tidak berdusta dan tidak punya lidah penipu. Tapi mari jujur: kita tidak seperti itu. Bibir kita masih sering mengelak, melebih-lebihkan, dan menyembunyikan. William Wood mencatat sesuatu yang menarik. Gambaran "tidak ada tipu di mulut" hanya ada pada satu tokoh lagi dalam Perjanjian Lama: Hamba TUHAN yang menderita, yang meskipun tidak berbuat kekerasan, "tipu tidak ada dalam mulutnya" (Yes. 53:9). Petrus menerapkannya kepada Yesus, lalu langsung menyambung ke salib:

Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. [...] Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib.
(1 Petrus 2:22, 24)

Artinya, kebersihan bibir sisa umat itu bukan hasil usaha mereka, melainkan pinjaman dari Dia yang sejati. Persis seperti bara dari mezbah yang menyentuh bibir Yesaya, ada kurban yang membersihkan kita dari luar. Wood juga mengaitkannya dengan Wahyu 14:5, di mana pengikut Anak Domba di Bukit Sion digambarkan tanpa dusta di mulut mereka. Sisa itu bersih karena Anak Domba itu sudah lebih dulu dibersihkan bagi mereka, dan menanggung kotoran kita di salib.

Hukuman yang Disingkirkan, Raja yang Datang

Sekarang kita kembali ke teka-teki ayat 8 dan ayat 15. Komentari TGC mengingatkan bahwa Zefanya sendiri menyebut hari TUHAN sebagai korban sembelihan (Zef. 1:7), tanda bahwa murka Allah hanya dapat diredakan lewat kematian seorang pengganti. Kalau begitu, di mana korban itu? Perhatikan baik-baik adegan Minggu Palma:

Mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" [...] "Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang."
(Yohanes 12:13, 15)

Komentari TGC mencatat bahwa hanya di Zefanya 3:14-15 dan Yohanes 12:13-15 kita menemukan tiga frasa itu berkumpul: "puteri Sion", "Raja Israel", dan "jangan takut". Yohanes memang sedang mengacu ke nubuat ini. Yesus masuk Yerusalem sebagai Raja yang datang dalam nama Tuhan, tetapi Ia sedang menuju salib, tempat hukuman yang seharusnya jatuh atas kita dituangkan atas Dia. Paulus menyebutnya sebagai surat hutang kita yang "ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib" (Kol. 2:14), sehingga "tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus" (Rm. 8:1). Dan janji ayat 11 digenapi juga: "Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan" (Rm. 10:11).

Ada satu lagi gema yang indah. Di Babel, TUHAN turun untuk melihat menara yang dibangun manusia (Kej. 11:5), dan turun-Nya berakhir dengan penyerakan. Di Zefanya 3:15, Raja itu "ada di antaramu". Di dalam Kristus, Allah turun sekali lagi: "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita" (Yoh. 1:14). Kali ini Ia turun bukan untuk menyerakkan, tetapi untuk menjadi tempat kita berlindung.

Kita tidak perlu mendaki menara untuk mencapai Allah. Allah sendiri yang turun, dan Dialah menara tempat kita berlari.

Catatan Injil

Aplikasi: Berlari ke Menara yang Benar

Kalau Nama itu sudah menjadi tempat berlindung kita, apa artinya hidup di dalamnya sehari-hari? Ada empat langkah kecil yang bisa kita ambil.

1. Kenali Menara-Menara Kita

Menara zaman ini jarang berupa batu bata. Bentuknya bisa karier yang kita jaga mati-matian, saldo tabungan, citra yang kita rapikan di media sosial, kesehatan, kontrol atas segala rencana, atau nama baik di mata keluarga dan rekan kerja. Semua itu belum tentu salah. Masalahnya muncul ketika kita menjadikannya tempat berlari saat takut.

Coba tanyakan: ketika cemas, ke mana pikiranku lari pertama kali? Ke rekeningku? Ke reputasiku? Ke kemampuanku mengatur segalanya? Jawaban jujur atas pertanyaan itu menunjukkan menara kita yang sebenarnya.

2. Berlarilah dengan Tangan Kosong

Allah menyisakan umat yang rendah hati dan lemah, bukan yang sudah rapi dan kuat. Yesus sendiri berkata, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah" (Mat. 5:3). Artinya, kamu tidak perlu membereskan diri dulu sebelum datang. Kamu tidak perlu punya doa yang panjang. Cukup berseru, karena "barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan."

Langkah kecilnya: saat rasa takut atau malu menyerang, jangan langsung membuka ponsel atau menghitung ulang rencana. Berhentilah satu menit, lalu serukan satu kalimat sederhana, "Tuhan Yesus, aku berlindung pada nama-Mu." Itu bukan doa yang remeh. Itulah ḥāsâ.

3. Jaga Bibir, Rapatkan Bahu

Sisa umat tidak berdusta karena mereka tidak lagi takut. Maka sebelum menegur diri soal kebiasaan berbohong, bergosip, atau mengelak, tanyakan dulu: apa yang sedang aku takutkan? Biasanya akar dari lidah penipu adalah rasa tidak aman. Kalau kita sudah berlindung pada Nama, kita punya ruang untuk jujur, mengaku salah, dan berkata benar.

Dan ingat, berlindung pada Nama tidak pernah sendirian. Mereka beribadah "bahu-membahu". Kalau akhir-akhir ini kita menarik diri dari komunitas ibadah karena lelah atau malu, jangan menunggu siap. Datanglah, duduk berdekatan dengan saudara seiman, termasuk dengan mereka yang berbeda latar, suku, atau generasi. Di situlah gambaran Zefanya 3:9-10 mulai terlihat sekarang.

Bersorak-sorailah, hai puteri Sion, bertempik-soraklah, hai Israel! Bersukacitalah dan beria-rialah dengan segenap hati.

Zefanya 3:14

4. Bersukacita Sebelum Semuanya Beres

Zefanya menyuruh umat bersorak sebelum musuh benar-benar lenyap, sebab kepastian masa depan sudah menjadi milik mereka. Kita juga boleh bersukacita sebelum urusan hidup tertata. Tagihan belum lunas, hasil pemeriksaan belum keluar, relasi belum pulih, dan itu semua nyata. Tapi Raja sudah ada di antara kita, dan hukuman sudah ditanggung-Nya.

Bahkan lebih dari itu, perikop berikutnya mengungkap isi hati Allah sendiri: "TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai" (Zef. 3:17). Perhatikan, bukan hanya kita yang bersorak. Allah sendiri yang bersorak atas kita. Itu cukup untuk membuat kita bernyanyi bahkan di hari-hari yang berat.

Renungkan beberapa pertanyaan ini minggu ini:

  • Menara apa yang paling sering kupakai sebagai tempat berlari saat takut?
  • Apa yang membuatku tidak mau datang dengan tangan kosong kepada Tuhan?
  • Dengan siapa aku bisa belajar beribadah dan hidup bahu-membahu, bukan sendirian?


📖 Cerita Fiktif Pendukung

Percakapan fiktif antara Tania, seorang karyawan kantoran yang cemas karena isu pengurangan pegawai di perusahaannya, dan Pak Harianja, seorang penatua pensiunan yang sudah lama mendampingi pemuda di gerejanya.

Tania: Pak, jujur minggu ini aku nggak bisa tidur. Ada kabar perusahaan mau mengurangi pegawai. Aku sampai ngecek rekening tiap malam, terus rajin banget lembur supaya kelihatan penting.

Pak Harianja: Tarik napas dulu, Tan. Kamu baru baca Zefanya 3 minggu ini, kan? Bapak ingin tanya dulu: waktu cemas begitu, kamu lari ke mana?

Tania: Ke tabungan, Pak. Sama ke... ya, ke citra rajin itu tadi. Pokoknya aku harus kelihatan nggak tergantikan.

Pak Harianja: Nah, itu menara-menaramu. Ingat Babel? Orang-orang di sana bilang, "Marilah kita dirikan menara dan cari nama bagi kita, supaya jangan terserak." Mereka mencari nama sendiri supaya merasa aman. Hasilnya justru terserak, dan nama kota itu cuma dikenang sebagai kekacauan.

Tania: Jadi Tuhan nggak suka aku punya tabungan atau kerja keras?

Pak Harianja: Bukan itu. Tabungan dan kerja keras itu baik. Masalahnya kalau semua itu jadi tempat larimu. Zefanya bilang Allah menyisakan umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka mencari perlindungan pada nama TUHAN. Kata Ibraninya ḥāsâ, seperti anak burung sembunyi di bawah sayap induknya. Dan Amsal 18:10 bilang, Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sana orang benar berlari dan menjadi selamat. Jadi menaranya diganti: bukan menara buatan kita, tapi Nama-Nya.

Tania: Tapi aku rasanya nggak pantas lari ke Tuhan. Aku sering bohong kecil-kecil di kantor demi aman. Dan aku merasa malu.

Pak Harianja: Menarik kamu sebut dua hal itu, bohong dan malu. Di ayat 11, Allah bilang, "engkau tidak akan mendapat malu karena segala perbuatan durhaka yang kaulakukan terhadap Aku." Dosanya nyata, tapi malunya dicabut. Dan ayat 13 bilang sisa itu tidak punya lidah penipu. Tapi dengar, itu bukan karena mereka hebat. Bapak sering melihat kita berbohong karena takut. Orang yang sudah berlindung tidak perlu menipu lagi.

Tania: Terus kalau aku tetap nggak bisa jujur dengan lidahku sendiri?

Pak Harianja: Memang nggak bisa, Tan. Satu-satunya orang yang tidak ada tipu di mulut-Nya adalah Yesus, Hamba yang menderita di Yesaya 53. Petrus bilang tipu tidak ada dalam mulut-Nya, dan Ia memikul dosa kita di kayu salib. Kebersihan bibir kita itu pinjaman dari Dia. Itu sebabnya kita bisa datang dengan tangan kosong.

Tania: Bagaimana dengan ayat 8 dan ayat 15, Pak? Yang satu murka, yang satu hukuman sudah disingkirkan.

Pak Harianja: Pertanyaan bagus. Di antara dua ayat itu ada salib. Hari Minggu Palma, orang-orang berseru, "Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" Itu persis frasa Zefanya 3:14-15. Yesus datang sebagai Raja, lalu menanggung hukuman kita. Di Babel TUHAN turun melihat menara. Di Kristus, Ia turun lagi, bukan untuk menyerakkan, tapi untuk jadi tempat kita berlindung.

Tania: Jadi aku boleh tenang walau PHK itu terjadi?

Pak Harianja: Kamu boleh sedih, boleh khawatir, dan boleh berusaha. Tapi kamu tidak sendirian. Dan Zefanya bilang bersorak-soraklah, bahkan sebelum semuanya beres, sebab Raja sudah ada di antara kita. Dua hal kecil yang bisa kamu lakukan: serukan nama Yesus satu menit sebelum buka ponsel, dan datang beribadah minggu ini. Jangan sendiri, rapatkan bahumu dengan yang lain.

Tania: Oke, Pak. Malam ini aku mau coba tidur dulu tanpa ngecek rekening.

Pak Harianja: Bagus. Dan ingat satu ayat lagi, Tan: Zefanya 3:17 bilang Allah sendiri bersorak atas kita. Kamu bukan sedang berlari ke tempat yang dingin. Kamu berlari ke Bapa yang bergirang karena kamu.

Bagikan:

Catatan Terkait